Tampilkan postingan dengan label Kidung Metafora Benda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kidung Metafora Benda. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2013

Tak Ada Yang Percuma

Jum'at terakhir di tahun dua ribu dua belas lalu alhamdulillah saya kehilangan amplop berisi uang yang rencananya akan saya gunakan untuk membayar ketika berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan. Setelah mencari laksana tawaf di tengah ramainya orang yang berbelanja akhirnya saya tidak berhasil menemukannya. Ya sudahlah, saya elus dada dan mengucapkan "aal iz vell", kembali kepada istri yang tengah mengantri di kasir pembayaran dan berkata "maaf ya sayang, semua pasti tidak percuma".

Keesokannya ketika saya hendak mengambil uang di mesin ATM salah satu bank pemerintah. Dalam rangka membelikan keponakan hadiah ulang tahun, alhamdulillah kartu ATM saya tertelan sehingga batal membeli karena satu-satunya rekening saya tertelan dan tidak bisa digunakan. Dus hari itu adalah sabtu dimana semua kantor tutup dan baru buka hari Rabu. Jujur saya sempat emosi dan uring-uringan, tapi istri mengelus dada saya dan berucap "sabar ya sayang, semua pasti tidak percuma"

Hingga suatu malam istri mengingatkan "Popo sudah mensedekahkan penghasilannya?". "Astagfirullah, iya sayang Popo khilah, lupa. Berarti benar kejadian tempo hari tidak percuma ya." saya pun melakukan tepok jidat. "Iya Po, bisa saja kehilangan kemarin adalah mekanisme yang sudah Tuhan lakukan secara otomatis untuk mengingatkan dan membantu popo untuk melakukan komitmen sedekahnya. Jadi, tidak ada yang percuma toh" jawab istri saya.

Tak lama setelahnya, gara-gara niatan mengisi pelatihan secara gratis dengan dasar niat berbagi energi positif, saya mendapat hand set Blacberry gratis. Sesuatu yang sebenarnya saya paling tidak mau bersentuhan dengannya. Mungkin ini bentuk dukungan semesta, karena sudah sejak lama beberapa teman menyarankan saya untuk menggunakan blacberry. Dan dikarenakan melakukan pelatihan dengan niatan sedekah energi itu tadi itu Blackberry akhirnya mau ndak mau harus saya sentuh.

Saya harus menganggap kehadiran Blackberry bukan sebagai pencairan sedekah energi yang saya lakukan. Karena saya harus mengingat "tidak ada yang percuma", sehingga saya harus menjadikan Blackberry tersebut sebagai uang muka dari Tuhan agar saya lebih banyak melakukan sedekah energi. Dengan demikian bukan hanya nilai kebermanfaatan Blacberry saja yang bertambah, nilai kebermanfaatan saya sebagai manusiapun harus terus bertambah.

Bagaimana dengan sahabat semua? Yuk jadikan nikmat dalam bentuk kemudahan, hadiah, prestasi atau apapun bentuknya sebagai cambuk pelecut agar terus menebar kebaikan, sebagai jalan terbaik bagi kita menjadi masterpiece kehidupan.

-aeplopyu-
---------------------------------------------------------
Ingin berbincang & bersama-sama Guyu? Yuk berbagi ilmu @cakaep atau sedekah energi via bbm 291c60bf

Rabu, 02 Januari 2013

I Believe I Can Sail


Beberapa saat lalu dalam sebuah pelatihan saya sempat ditanya "cak aep sudah berapa lama menekuni dunia pelatihan ?". Secara jujur saya menjawab "jatuh cinta sama dunia pelatihan sih sudah semenjak tahun dua ribu sepuluh, tapi baru full berlayar menjadi seorang trainer profesional ya baru tahun dua ribu dua belas".

"Lho kok bisa? saya kira jam terbangnya sudah banyak, soalnya perform didepan dah kayak trainer kondang" tanya peserta tersebut. "Ndak lah mas saya masih harus banyak belajar. Lagipula saya bukan trainer kondang lawong saya jarang kondangan. Saya juga ndak punya jam terbang, lha wong saya lebih senang memperbanyak jam berlayar" jawab saya. 

"Lho bercanda lagi kan cak aep ini, hidupnya kayaknya guyon terus. Masa jam berlayar? dimana-mana kesuksesan profesi orang kan dilihat dari jumlah jam terbangnya" jawab peserta tersebut. "Jam terbang itu menunjukkan prestise profesi seseorang. Pesawat terbang itu kendaraan ekspres super cepat, mahal, lalu kalo sering terbang berarti kan sudah sering tampil di belahan bumi lain. Makin sering orang naik pesawat terbang dan punya jam terbang makin hebatlah dia toh?" tukas peserta tersebut seraya menunjukkan keanggotaan "frequently flyer" salah satu maskapai penerbangan terkemuka indonesia yang ia jadikan gantungan kunci di tas back packernya.

"saya tumbuh hingga bisa seperti sekarang bukan dengan cara instan ekspress super cepat. Berbagai tempaan gelombang hingga tsunami kehidupan alhamdulillah sudah saya lalui dalam lautan cita-cita masterpiece kehidupan saya. Dan yang lebih penting saya mengendarai perahu buatan saya sendiri, kendaraan yang terbuat dari tambal sulam bahan ala kadar jerih payah saya dalam menggapai diri menjadi masterpiece kehidupan. Perahu saya saat ini mungkin belum besar dan hanya mampu membawa serta beberapa penumpang, tapi itu lebih baik daripada saya yang menumpang" jawab saya.

"hayo mana yang mampu membuat bahagia dan memiliki nilai kebanggaan lebih baik: menjadi penumpang dalam balutan kemewahan atau orang yang memberi tumpangan?" lanjut saya. "lagipula ada sebuah pengibaratan profesi: bahwa pelaut ulung tidak akan lahir dari lautan yang tenang. Ndak pernah ada toh pengibaratan profesi: pilot yang ulung tidak akan lahir dari langit yang tenang, apalagi penumpang ulung. Masa bangga berprofesi sebagai penumpang?" saya kembali melanjutkan.

"lagipula berdasarkan catatan sejarah ada loh lagu kebanggaan menjadi pelaut yang memiliki jam berlayar bukan jam terbang: nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa" lanjut saya bernyeleneh ria.

"Uhuk" kontan jawaban saya tersebut membuatnya tersedak sehingga mukanya memerah, entah karena malu, entah karena kepedesan, atau memang mungkin karena kebiasaan orang yang naik pesawat terbang mudah tersedak. "Maaf mas saya mau minum air dulu" orang tersebut akhirnya bergegas pergi. "Oh ya mas jangan minum air dulu nanti bisa sakit lho, lebih baik minum air yang baru disediakan tuh disudut sana insyaallah rasanya ndak beda jauh sama yang di pesawat" saya coba membantu mengingatkan demi kebaikannya.

Nah bagi sahabat yang tengah memantapkan diri dalam membuat desain hidup di tahun baru ini, yang sedang mencari kerja atau bahkan sedang akan mencari kerja. Buang anggapan bahwa bekerja di perusahaan bonafit akan membuat kehidupan anda akan lebih prestisius. Daripada bangga menjadi karyawan di perusahaan terkemuka namun anda tetap saja menjadi seorang penumpang. Lebih baik hayo perkaya Indonesia dengan menjadi self employee wal wirausahawan. Meskipun tidak mudah karena akan menghadapi banyak gelombang badai yang cetar membahana, namun percayalah: I Believe I Can Sail.

-aeplopyu [I Love U]-

------------------------------------------------
Ingin berbincang & bersama Guyu? Cukup klik kitik si burung biru


Selasa, 18 Desember 2012

Patas Nan Pantas


Dalam sebuah jamuan makan anda harus mengantri untuk mendapat semangkuk bakso yang merupakan sajian terlezat dalam acara tersebut. Memang sih masih banyak hidangan yang lain, tapi banyak tamu undangan yang testimoni bahwa bakso tersebut merupakan hidangan yang paling enak dari sekian banyak sajian makanan yang ada, buktinya banyak tamu yang mengantri untuk mendapatkannya. Hidangan bakso memang masih terlihat banyak tapi sayangnya ketika anda berhitung, mangkuk sebagai wadah untuk makan ternyata hanya cukup untuk tiga orang di depan anda. Apa yang akan anda lakukan?

"Gimana sih mas? saya ini tamu harusnya dilayani layaknya Raja! Cepat sana carikan saya mangkok yang baru!" jika anda lakukan hal ini, memang besar kemungkinan anda akan mendapatkan bakso idaman anda, tapi bukan dalam wadah mangkok baru, melainkan langsung ditempatkan ke dalam mulut anda. Tindakan agresif dan merendahkan seperti ini akan berdampak buruk dan membawa bahaya dalam hidup anda, karena anda memperlakukan orang lain secara tidak pantas.

"Mas, karena mangkok untuk bakso habis, boleh ya saya pakai mangkok alternatif" Anda berbicara dengan santun sembari menyodorkan mangkok kecil untuk menyantap sup. Jika anda lakukan hal ini, anda akan mendapatkan bakso idaman. Sekalipun tidak dalam jumlah porsi yang ideal, namun anda tetap mendapatkan kepuasan karena mampu merasakan nikmat lezat bakso yang anda dambakan. Bahkan hal yang anda lakukan bisa saja menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, karena anda telah memberikan sebuah solusi yang yang dianggap pantas.

Patas Nan Pantas. Usah khawatir dibilang tidak tahu malu dalam memilih solusi alternatif demi pencapaian kebutuhanmu, yang penting buatlah solusi cepat dan baik karena mengedepankan unsur kepantasan. Ingat! Bukan mengaplikasikan prinsip buta menghalalkan segala cara. Carilah solusi alternatif yang tidak mengabaikan nilai kepantasan: kepantasan terhadap diri sendiri dan kepantasan terhadap orang lain.

-aeplopyu [I Love U]-

-----------------------------------------
Ingin berbincang & bersama-sama Guyu? Cukup klik kitik si burung biru


Sabtu, 15 Desember 2012

Receh Bukan Remeh Temeh


Istri saya memiliki kebiasaan mengumpulkan recehan uang logam seratus rupiah dan dua ratus rupiah. Begitu telatennya hingga ia berhasil mememenuhi kotak bedak bayi yang tersimpan di sudut lemari. Awalnya saya begitu heran sebab apa yang membuat ia mau ngurusin hal remeh receh seperti itu. "Hal-hal kecil mampu menghadirkan sesuatu yang besar, kan popo yang bilang sendiri" begitu biasanya istri saya akan mengingatkan.

Dini hari tadi, apa yang diucapkan istri akhirnya terbukti. Usai shubuh tadi saya sengaja pergi ke pasar tanpa mengajak dirinya dan hanya bermodalkan tiga belas ribu rupiah yang terdiri dari kumpulan uang receh pecahan seratus rupiah dan dua ratus rupiah. Hmmm..kira-kira keajaiban apa yang akan terjadi: sebelas ekor ikan lele, satu tahu putih besar, dan dua ikat kacang panjang berhasil saya beli untuk asupan istri dan si jabang bayi, dibayar tunai dengan kepingan receh ratusan rupiah.

Ternyata kepingan-kepingan kecil receh mampu menghadirkan sesuatu yang bermanfaat besar dan bukan remeh temeh. Belanjaan pasar yang berhasil saya bawa pulang adalah contoh bukti nyatanya. Jika diniatkan dan diikhtiarkan nominal tiga belas ribu yang berasal dari kumpulan recehan ratusan rupiah, mampu menghadirkan manfaat besar berupa asupan gizi yang nilainya jauh melampaui nilai kepingan receh tadi.

Segera manfaatkan kepingan recehan yang kita miliki. Bakat-bakat kecil yang kita miliki dan cintai: menulis, hunting foto, melukis, hingga memasak teruslah latih dan asah. Lalu tunjukkanlah pada dunia karena itu akan memberikan nilai tambah terhadap hidup kita. Optimislah melakukannya! Daripada kita terus menggerutu terhadap ketetapan nasib atau bahkan menyalahkan orang tua, lingkungan, atau bahkan Tuhan: kok hidupku datar-datar saja? padahal kita yang seringkali kebliner mengacuhkan bakat-bakat kecil yang seharusnya kita bawa tampil (tunjukkan).

Menulis merupakan kepingan kecil dari bakat yang saya miliki. Mungkin bagi beberapa orang yang sudah jauh lebih pakar wal ahli tulisan saya merupakan kacang goreng receh wacana semata, tapi itu tak menyurutkan ikhtiar saya untuk terus menulis dan berbagi tiap hari. Impactnya: sahabat pembaca yang membuat penilaiannya yah :D.

Receh bukan remeh temeh: jangan sepelekan keping bakat yang ada dalam hidup kita. Semoga ikhtiar besar terhadap kepingan kecil yang kita miliki akan berbuah kehidupan yang PrestasiSempurna.

-aeplopyu [I Love U]-

-------------------------------------------
Ingin berbincang & bersama-sama Guyu? Cukup klik kitik si burung biru

Kamis, 13 Desember 2012

Gelang Sepet Tuh Gelang

Seorang sahabat yang tengah galau berkepanjangan berdiskusi alasan apa yang membuat hidupnya hampa. Ia mempercayai bahwa hidup adalah sebuah perlombaan, siapa yang tidak berusaha keras pasti akan tertinggal dan menjadi orang gagal. Sahabat tersebut telah menerapkan prinsip follow your passion, nyalakan lentera jiwa, cintai apa yang kau kuasai, dus ternyata tetap saja hidupnya begitu-begitu saja: Hampa.

Lalu apa yang salah? padahal sesungguhnya ia telah membuat desain hidupnya, kok malah hidupnya stagnan begitu-begitu saja? Jangankan berkembang, tumbuh pun ia alami dengan begitu perlahan. Ternyata ketika usut punya usut ia menjalani hidupnya dengan terlalu banyak gelang.

Menjadi lulusan terbaik dari universitas terkemuka, sahabat tersebut ternyata sudah membebani diri dengan berbagai macam desain beban yang harus ia selesaikan. "Aku harus membantu berobat bapak yang stroke dan sakit-sakitan. Aku harus membantu ketiga adik untuk mendapat pendidikan tinggi yang layak. Aku  harus bekerja diperusahaan bonafit sehingga derajat keluarga akan terangkat. Aku harus...Aku harus...Aku harus..."

Berbagai macam "Aku harus.." yang disebutnya sebagai desain hidup, harus saya katakan bahwa itu adalah salah. Apa yang sahabat tersebut katakan lebih menyerupai "mekanisasi" diri, memesinkan dirinya meraih kesuksesan dengan mengesampingkan aspek kemuliaan: obsesif meraih ego dan tidak peka terhadap kondisi sekitarnya. Sahabat tersebut jujur telah menghalalkan segala cara yang penting desain hidupnya tercapai. 

Gelang sepet tuh gelang: belenggu memberatkan dibuang saja. Lepaslah satu persatu gelang beban tersebut. Sekarang bayangkan jika terlalu banyak gelang di leher, bagaimana rasanya: sesak bernafas. Terlalu banyak gelang ditangan: berat untuk berbagi. Terlalu banyak gelang di kaki: berat untuk bersilaturahim. Terlalu banyak gelang di kepala: sakit terasa karena terhimpit ruang sempit. Terlalu banyak gelang akan membelenggu hidup dan menghalangi menjadi orang yang bermanfaat.

Fokus pada raihan prestasi jangan sampai menjadi gelang beban, yang akan menghalangi kesempurnaan hidup dalam berbagi kemuliaan. Berbagilah kenikmatan prestasi dengan orang lain. Nikmatilah hidup: jadilah orang yang bermanfaat, maka kesuksesan akan menghampiri. 

- aeplopyu [I Love U]-

---------------------------------------
Ingin berbincang & bersama-sama Guyu? Cukup klik kitik si burung biru


Minggu, 09 Desember 2012

Power Bank Kehidupan

Dulu saya seringkali tertawa dan geleng-geleng kepala ketika berada di ruang tunggu bandara karena melihat beberapa orang yang terlihat keren dan gagah kelimpungan mencari stop kontak untuk mengisi ulang daya baterai gadget mahal yang dibawanya. Ya, tentu saja daya baterai gadget kita akan cepat terkuras seiring intensitas penggunaan aplikasi, entah untuk produktifitas, hiburan, atau bahkan lifestyle.

Namun sekarang hal tersebut sudah bisa disiasati dengan kehadiran power bank. Sebuah kotak multi daya yang besarnya sebesar smart phone, yang berfungsi sebagai gardu tenaga kapanpun gadget anda kekurangan daya, bisa dibilang itu adalah PLN mini yang kita miliki.

Nah, jika dianalogikan dengan hidup, tentu kita juga membutuhkan sebuah power bank yang bisa membuat kita "menyala" setiap waktu. Power bank tersebut akan membuat kita mudah mendapatkan kelapangan prestasi dan menyempurnakan hidup dengan menebar manfaat. Power bank kehidupan tersebut juga tidak berharga mahal. Instrumen utamanya adalah ibadah, kotak pembungkus yang menguatkan dan memperindahnya bernama sedekah, serta kabel utama penghubung ke diri kita bernama silaturahim.

Ibadah baik bentuknya shalat, kebhaktian, atau apapun merupakan indikator utama baik buruknya kualitas hidup seorang manusia. Bahkan dalam spiritualitas yang saya anut, sebagai muslim kualitas hidup saya ditentukan dari kualitas shalat lima waktu yang fardhu. So, perbaiki ibadah fardhu kita jika ingin mesin utama penjamin prestasi dalam hidup, sesukses yang kita inginkan.

Sedekah akan membuat hidup kita lebih berarti. Belum ada sebuah kisah nyata yang menyebutkan bahwa dengan sedekah akan membuat kita menjadi lebih susah. Saya pribadi pernah merasakan keajaiban sedekah, dengan hanya membantu seorang sejumlah 1,5 juta hanya dalam waktu dua minggu saya mendapat ganti dari semesta sejumlah 150 juta. Bahkan hingga kini saya pun berkomitmen untuk memuliakan minimal 20% dari setiap penghasilan untuk sedekah. . Ingat ya, sedekah itu bukan sekedar memuliakan mereka yang membutuhkan, yang terpenting justru memuliakan yang memberi sedekah. Ingat pula ada sedekah wajib yang tidak boleh kita tinggalkan, yaitu mengkaji kitab suci, jika sebagai muslim yah sedekahkan waktu kita untuk mengkaji Al Quran

Silaturahim akan menjadi kabel penghubung energi kehidupan kita. Berkunjung kepada guru spiritual, ekpert, dan guru kehidupan akan memudahkan kita menjadi masterpiece kehidupan. Berkumpul dengan sahabat dan komunitas satu visi yang membangun akan membuat kita berkelimpahan. Anajangsana ke tetangga dan saudara akan membuat kita berkelimpahan kasih sayang. Itulah energi yang melimpah dan bisa dengan mudah kita lakukan.

Jika ibadah fardhu akan memudahkan kita mencapai prestasi dan kesuksesan. Maka sedekah dan silaturahim akan menyempurnakan kemuliaan prestasi tersebut. Yuk, selalu "menyala" dengan menyiapkan power bank terbaik bagi kehidupan kita, cukup dengan berbasiskan pada Ibadah fardhu, Sedekah, dan Silaturahim.

-aeplopyu [I Love U]-

--------------------------------------------
Ingin berbincang & bersama-sama guyu? Cukup klik kitik si burung biru

Kamis, 06 Desember 2012

Sangkakala Kebaikan Pak Andi

Pagi hari disekitar rumah tempat saya bermukim sekarang begitu menyenangkan, karena begitu banyak suara yang riuh rendah menyenangkan telinga. Dimulai dari kumandang adzan, bersambung kokok ayam, deretan burung yang berkicau di pepohonan kebun seberang, serta yang tak mau kalah eongan induk kucing memanjakan ketiga anaknya di  depan rumah.

Tapi diantara itu semua ada juga satu suara sangkakala kebaikan yang asalnya bukan dari pengeras suara masjid. Sangkakala kebaikan tersebut biasa berbunyi antara jam delapan hingga sembilan pagi. "Toet...toet..toet.." bunyi tersebut menyerupai suara soang muda yang sedang menawarkan kegembiraan. "Toet..toet..toet..." suara tersebut berasal dari terompet roti yang ditiup dengan mulut oleh seorang lelaki paruh baya bernama Pak Andi. "Toet..toet...toet..." orang yang tengah merindu akan kehadirannya akan segera bergegas keluar, berharap masih kebagian sajian cinta yang dijajakan Pak Andi.

Pak Andi adalah seorang lelaki paruh baya penjual kue keliling di kampung kami. Berangkat sebelum shubuh dari rumahnya di pelosok Citeureup Bogor menuju pabrik kue di Cilangkap Depok, Pak Andi memanggul dagangannya hingga ke kampung kami di daerah Cibinong. Pernah ia bertutur bahwa total dalam sehari jarak yang ia tempuh memanggul dan berjalan kaki adalah lebih dari lima puluh kilometer jauhnya. "Toet...toet...toet..." ketika suara itu terdengar maka perut ini pun segera tak tahan untuk segera terisi sarapan. 

"Toet..toet..toet.." Pak Andi jalannya cepat sekali, jika lengah maka hilanglah sudah kesempatan mendapat sarapan murah namun kaya nutrisi. Kue-kue yang dijajakan dalam panggulan Pak Andi dijual dengan harga amat bersahabat, maksimal lima ratus rupiah, sesuatu yang sulit didapat di kota yang serba mewah. Favorit saya adalah tahu sumedang yang ia timbun sajikan didalam keranjang panggulan, seribu rupiah dapat lima buah, rasanya uenak dan ukurannya besar merekah.

Pak Andi paling bersahabat terhadap anak-anak dan orang tua, seringkali berapapun rupiah kurang yang mereka bawa, Pak Andi akan tetap melayani dan memberikan kue kesukaan mereka. Saya pernah menyempatkan bertanya apa tidak rugi berjualan jika begitu caranya. Dengan logat khas sundanya Pak Andi menjawab "Rugi itu kalo enggak ada yang beli. Untung itu jika masih bisa berbagi". Eladhala ini orang, meski miskin namun masih mau berbagi.

"Toet...toet...toet..." sudah lebih dari seminggu ini suara itu tiada terdengar lagi. Rindu hati menyantap sajian kebaikan Pak Andi. Tidak biasanya suara itu absen selama ini, maksimal paling dua hari seperti bulan lalu. Semoga Pak Andi dalam kondisi yang sempurna, sehat wal afiat dan selalu berkeberkahan mulia. Sehingga sangkakala kebaikan itu "Toet...toet...toet..." akan berkumandang lagi dan menyenangkan kami yang merindukannya disini.

-aeplopyu [I Love U]-

-------------------------------
Ingin berbincang & bersama-sama guyu? Cukup klik kitik si burung biru

Rabu, 28 November 2012

Hargai Makananmu, Hargai Orang Lain

Saya selalu tersenyum miris jika melihat seorang yang mendedikasikan diri untuk mendidik dan membantu orang lain mendapat kehidupan terbaiknya, ternyata masih berlaku harus dipentingkan. Hal paling sederhana yang seringkali masih saya dapati mindset "GUE" harus dipentingkan, adalah ketika saya bersama tim dalam sebuah pelatihan menjalani rutinitas makan di waktu siang (sengaja saya tulis demikian karena nanti jika saya tulis makan siang ada yang protes: siang kok dimakan...hehehe).

Biasanya dalam sebuah acara pelatihan sederhana dan ala kadarnya, kami akan mendapat jatah makan di waktu siang dalam sebuah boks kardus. Saya paling jengkel jika seorang fasilitator yang mengambil boks kardus, membukanya untuk melihat apakah lauk kesukaan yang terdapat didalam boks sesuai selera atau tidak. Jika tidak dia akan mengembalikannya, mencari boks lain dan begitu seterusnya sampai seleranya terpenuhi.

Mengapa saya jengkel, karena seringkali fasilitator tersebut dengan seenak congornya beralasan dan mengabaikan keluhan teman setim demi egoisme bernama kepuasan. "Ikh kok milih-milih gitu sih? orang lain jadi seperti dapat sisaan. Gak sopan" setidaknya itu tamparan kepekaan sosial yang sering dikumandangkan kepada oknum yang kurang peka sosial atau dalam bahasa jawa disebut sebagai pekok.

Bagi saya memalukan, jika ada orang yang mendedikasikan diri dan membantu orang lain meningkatkan harga diri dan respon sosial, teryata ilmu yang diajarkan tidak teraplikasikan dalam keseharian yang ia jalani. Mulailah dari hal kecil dan sederhana seperti menghargai makanan. Menjadi pick eater karena alasan kesehatan atau alergi memang diperbolehkan. Tapi bila menjadi pick eater karena merasa harus dipentingkan, please deh malu sama apa yang diucapkan, mending ngungsi sana ke hutan.

Percaya deh, orang yang merasa "GUE" harus selalu dipentingkan, maka pasti kepuasan yang ia nikmati tidak akan bertahan lama. Karena ia memperoleh kepuasan dengan mengesampingkan kebutuhan orang lain yang mungkin teraniaya dengan caranya mendapat kepuasan tersebut.

Ingat! Hal-hal kecil merupakan bagian penting dan penguat dari hal yang besar. Seperti pasir yang mengokohkan bangunan. Kepuasan yang kita raih akan terasa kopong dan rentan, jika kita memperolehnya dengan cara ketidakpedulian.

Rasulullah saw bahkan mengajarkan ambillah makanan yang tersaji berada paling dekat denganmu, karena itu merupakan bentuk kebersyukuran jua menghargai perasaan orang yang ada disekitarmu. So, mari menghargai orang lain, dengan menghargai makanan.

-aeplopyu [I Love U]-

-------------------------------------------
Ingin berbincang dan bersama-sama Guyu? Cukup klik kitik si burung biru

Minggu, 25 November 2012

Sepatu Ilmu

Malam tadi sepatu saya yang basah ternyata belum kering, padahal besok pagi saya harus mengenakannya sebagai pelengkap grooming dalam salah satu sesi inspirasi guyu di Bogor. Memutar otak untuk mendapatkan solusi agar sepatu cepat kering, saya jadi teringat cara yang selalu saya lakukan ketika masa kecil dahulu. 

Ketika celana sekolah saya yang basah belum kering untuk digunakan pagi hari, maka saya akan mensangrainya di wajan panas yang terletak diatas kompor. Terbukti cara ini efektif menguapkan air yang menempel dan membuat celana cukup kering dan menimbulkan sensasi hangat-hangat kuku.

Akhirnya saya mencoba cara yang hampir serupa. Dikarenakan kapasitas wajan yang tidak muat bagi sepatu, maka sayapun memasukkan sepatu yang basah kedalam panci dan memanaskannya untuk beberapa saat. Bahkan biar semakin cepat kering dan air lekas menguap, saya tutup rapat panci tersebut. Eladhala, baru berselang satu menit asap hitam dan bau gosong menyeruak. Ternyata kulit luar sepatu saya lengket di dasar panci. Ternyata saya lupa bahwa kulit luar sepatu terbuat dari lapisan sintetis yang akan meleleh jika dipanaskan. Alamak, maksud hati agar cepat kering, tapi karena salah ilmu malah bikin sepatu jadi gosong dan garing.

Apa yang saya alami malam tadi membuat saya belajar, bahwa agar sesuatu  baik hasilnya, itu ada ilmunya. Ibarat sepatu tersebut, karena ketidaktahuan saya tentang bagaimana mengeringkan secara tepat, malah sepatu menjadi rusak. Jangan sampai seorang guru, trainer, inspirator, motivator, atau jenis profesi lain yang membantu manusia, ketika menerapkan pengetahuan atau solusi kepada orang lain, padahal ia tidak menguasai ilmu tentangnya. Bisa jadi menyesatkan dan malah merusak kehidupan orang yang membutuhkan bantuan.

Pun ibarat sepatu yang merupakan alas kaki kita dalam berjalan. Karena kehadirannya kita akan merasa nyaman dan terhindar dari luka yang menyakitkan. Ilmu pun akan membuat kita nyaman dalam menjalani kehidupan.

Mari menjadi manusia yang bijak dalam belajar dan bijak dalam menerapkan.

-aeplopyu {I Love U]-
-----------------------------------------------------
Ingin berbincang dan bersama-sama guyu? cukup klik kitik si burung biru

Selasa, 20 November 2012

Payung - Payung Kehidupan

Mencari ilmu layaknya jamur payung (tiram). Kita harus tepat mencari dan memetik ilmu di tempat yang tepat. Jamur payung dapat tumbuh disegala tempat, namun tidak seluruh ilmu dapat berguna dan tepat manfaat. Tempat yang sehat akan membuat kehidupan kita melesat dengan ilmu yang kita dapat. Namun jika memetik ilmu di tempat yang salah, jamur payung justru akan menjadi racun dan membuat impian kita tertimbun.

Kesuksesan yang kita dapat segeralah dimuliakan dengan berbagi manfaat. Tidak harus melakukan hal yang besar dan jor-joran karena bisa membuat kita ragu berbagi kebaikan. Mulailah dengan menjadi seperti paku payung, meski hal yang dilakukan kecil tapi bisa bermanfaat membantu mereka yang membutuhkan. Paku payung merekatkan dan menguatkan. Tapi setiap kebaikan yang dilakukan usahlah selalu disebutkan. Ibarat paku payung yang terbalik, bukannya bermanfaat justru akan melukai balik. Melukai kemuliaan hati yang sudah diniatkan untuk ikhlas berbagi.

Jika sudah mendapatkan peningkatkan prestasi, maka harus juga melakukan peningkatan berbagi. Dari paku payung menjelmalah menjadi permen payung: permen manis yang terbuat dari coklat dan dibentuk payung. Berbagilah manisnya coklat kehidupan dengan orang lain. Coklat kebaikan yang kita bagikan akan membuat orang lain merasa nyaman dengan manfaat yang kita berikan.

Permen payung hanyalah snack kehidupan. Manfaatnya mungkin kurang sebanding dengan kesuksesan prestasi yang kita raih. Ingat prinsip semakin banyak meraih, semakin banyak memberi. Ibarat sebuah kontinum yang semakin membesar ke atas, semakin besar kesuksesan yang diraih maka kemuliaan hidup berbagi yang kita jalani juga harus semakin besar. Maka jadilah payung sesungguhya, yang bermanfaat bagi sesama kala deras hujan kehidupan menerpa maupun terik panas ujian membakar. Payung yang memberikan manfaat lebih luas.

Ketika kita mampu seimbang antara kesuksesan yang teraih dan kemuliaan yang terbagi, maka kelak setidaknya kita mampu menjawab dan meminta hak syurga kepada Tuhan atas tiap kebermanfaatan yang kita lakukan. "Tuhan, aku memulai dengan payung-payung kecil kehidupan, dan kebermanfaatan tersebutlah satu-satunya yang aku wariskan selama aku menjalani kehidupan. Maka pantaslah setidaknya aku mendapatkan syurgamu, meskipun itu berada di tingkat yang paling rendah?"

Sedialah payung sebelum dipanggil Tuhan. Mari menjadi payung - payung kehidupan. 

- aeplopyu [I LoveU] - 

Minggu, 18 November 2012

Pemecah Ombak Kehidupan

Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan akhirnya kami tiba di perkampungan nelayan Marunda. Kedatangan kami langsung disambut oleh angin pantai yang tidak bersahabat, seakan hendak membantai niat kami untuk berlibur sesaat. Angin begitu dahsyat, membuat ombak menggulung dan mempontang-pantingkan barisan perahu kecil yang tertambat. Langit mendung begitu kelam, sempat membuat kami murung dan memiliki opsi untuk kembali pulang.

Mata saya langsung tertuju pada barisan batu pemecah ombak yang tertata menjurus ke laut dan menyerupai teluk kecil. Air laut menggulung, menghantam keras jajaran batu pemecah ombak, menimbulkan suara menggelegar yang mampu membuat telinga menjadi pekak.

Usai mengantar ibu dan istri ke saung kecil yang tersedia di muka warung salah satu nelayan, saya pun bergegas menyempatkan diri menjajaki barisan pemecah ombak tersebut. Saya dapati bahwa barisan pemecah ombak terdiri dari kumpulan bebatuan yang tersusun dengan rapih dan kokoh. Beberapa dari batu tersebut sudah ada yang menguning karena faktor usia, bahkan merapuh karena terus tergerus

Sekeras atau sedahsyat apapun hantaman yang diberikan, batu pemecah ombak berdiri tegar dan mempertahankan daerah di sisi lainnya agar tidak terhantam dan mengalami abrasi. Batu pemecah ombak tampil menjadi pijakan  dan jalan bagi manusia yang ingin menikmati kesegaran alam perairan. Batu pemecah ombak adalah guru inspirasi kehidupan.

Jika diibaratkan metafora kehidupan, batu pemecah ombak merupakan kumpulan ujian yang kita hadapi. Ibarat vaksin imunisasi yang awalnya menyakitkan dan membuat demam, vaksin pemecah ombak menjadikan kita kebal terhadap hantaman ombak masalah yang datang untuk menjangkiti. Semakin banyak masalah dan ujian yang kita hadapi akan membuat kita lebih kokoh dan kuat terhadap hantaman tantangan yang akan menghampiri.

Masalah kita adalah harta kehidupan ketika kita mampu menuntaskan. Penderitaan dan cobaan akan berbuah kasih sayang ketika kita mau berbagi solusi kepada mereka yang membutuhkan. Ibarat pemecah ombak, semakin banyak masalah kehidupan yang dimiliki, maka akan semakin banyak solusi kehidupan yang bisa kita bagi. Semakin banyak solusi yang kita bagi, maka semakin banyak orang terselamatkan dari abrasi demotivasi dan keputusasaan diri.

Mari menjadi pemecah ombak, mari hidup berbagi..

- aeplopyu [I Love U] - 

Jumat, 16 November 2012

Memancing Rezeki

Dipilinnya tiga buah senar dan dikepang sedemikian rupa sehingga membentuk untaian yang tampak kuat. Berjarak setiap lima puluh sentimeter, ditambahkan olehnya untaian benang untuk mengikatkan kail pengumpan. Di penghujung untaian ia tambahkan sebuah bola besi sebesar kelereng yang berfungsi sebagai pemberat. Beberapa titik luka terlihat di tangan karena tersayat ketika memasang kail pengumpan. Ya, Papa sedang asyik menikmati dan berinvestasi untuk hobby barunya: memancing di pesisir pantai Marunda.

Beliau begitu bahagia dengan apa yang dilakukan dan bersedia berinvestasi lebih untuk sesuatu yang dianggapnya berharga: Ikan. Dan memang terbukti apa yang beliau lakukan tidak sia-sia, selama seminggu ini orang tua selalu menyantap limpahan tangkapan laut bergizi yang dibawa papa pulang serta.

Hal yang dilakukan papa membuat saya terinspirasi, bagaimana hendaknya kita memperoleh rezeki. Rezeki bukanlah semata-mata berbentuk harta. Rezeki juga dapat berwujud tahta, kata (ilmu), ataupun cinta. Ketika kita menginginkan rezeki kita berlimpah, maka kita harus rela berinvestasi lebih untuk mendapatkannya. 

Diibaratkan memancing rezeki, untaian tali pancing keahlian kita haruslah istimewa. Karena dengannya ikan rezeki akan tertarik, tak akan putus ditengah perjalanan, berhasil kita bawa serta dalam kotak kebahagian, jua menjadi hidangan bergizi ketika kita sajikan..

Jadilah seorang ahli karena dengannya kita akan dicari rezeki. Gunakanlah kail keahlian terbaik sehingga ikan rezeki tidak akan lepas dan menjauhi balik. Gunakanlah pemberat berupa keunikan diri, sehingga itu akan memudahkan ikan rezeki mengenali, mendekati, dan bersedia untuk kita bawa. Kuatkan keahlian dengan tiga buah senar ibadah, sedekah, dan silaturahim yang akan memperkuat asa dan membuat berkelimpahan bahagia.

Pun demikian, seahli dan sehebat apapun kita pasti akan terluka karena kecerobohan atau khilaf menghadapi ujian. Tapi anggaplah itu proses penyempurnaan diri, karena tanpa ujian kita akan menjadi orang biasa kebanyakan.

Mari mengasah diri, mari menjadi ahli terhadap apa yang kita cintai, mari memancing rezeki.


- aeplopyu [I Love U] - 



Kamis, 08 November 2012

Pengawet Cinta

Pagi ini saya menemani istri berbelanja sayuran ke pasar. Semalam ia ngidam meminta jagung yang masih terbungkus daun dan masih ada bonggol di ujung. Menurutnya jagung yang langsung dibeli di pasar pastinya lebih segar. Daun dan bonggol yang masih melekat pada jagung merupakan pengawet alami, bukan pengawet buatan yang berbahaya bagi kesehatan.

"Popo merasa ndak? bukan hanya jagung, namun setiap hal ternyata membutuhkan pengawet biar lebih sehat, lebih enak, dan lebih tahan lama" Istri saya berkata. "Tapi po, sebaik-baiknya pengawet adalah yang alami. Kalo pengawet buatan itu diberikan karena dipaksakan, yang justru akan membuat kenikmatan menjadi rentan buat kesehatan" Seperti biasanya hari ini istri saya muncul menjadi Guru Kehidupan.

Apa yang dikatakan istri terus terpikirkan, seakan menjadi sebuah tamparan lembut inspirasi kehidupan. Ternyata konsep pengawet yang dikatakan oleh istri memang harus diterapkan disegala lini kehidupan, termasuk pernikahan.

Saya jadi teringat sebuah lirik lagu yang saya senandungkan ketika mengkhitbah istri:
"Agar cinta bersemi indah semaikanlah didalam dada keikhlasan untuk memaafkan segala kesalahan. Agar tiada dendam bersemayam, lapang dada untuk menerima segala perbedaan yang terjadi. Agar tiada kekecewaan dan lahir kebesaran jiwa. Menuju kemesraan yang menyegarkan hati dan canda-canda kecil menggelitik hati" (JV: Agar Cinta Bersemi Indah)

Pernikahan itu harus mampu dinikmati. Agar kenikmatan pernikahan bertahan lama tentunya dibutuhkan pengawet. Sebaik-baiknya pengawet adalah yang alami, dan pengawet alami adalah yang tidak dipaksakan dan berasal dari kerelaan hati. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw ketika tiap hari mengeluarkan canda kecil untuk istrinya aisyah ra. Menggoda, merayu, hingga memberikan julukan mesra khumairah (yang pipinya kemerah-merahan). Itu baru sedikit dari sekian banyak pengawet cinta kasih yang rasulullah saw lakukan.

Tidak usah memaksakan diri dalam memanjakan istri dengan memberikan kemewahan materi yang menyilaukan. Menyilaukan itu membutakan, membutakan itu menyesatkan, menyesatkan itu mematikan, sebagaimana pengawet buatan. Tapi jika kita mampu, PENTING membahagiakan istri dengan kemewahan sekali-kali.

Sebagaimana jagung itu tadi, lebih baik memberikan pengawet alami. Karena pengawet alami, rasa jagung ketika direbus sungguh nikmat manis sekali. Apalagi jika menyantapnya disuapi tangan penuh kasih, "Popo, sini Ubi suapin jagungnya sayang....." Haduh sungguh uenak tenan.


- aeplopyu {I Love U) -


Rabu, 07 November 2012

Saat Sikat Curhat

Suatu kala dini hari, disuatu toko perlengkapan kamar mandi. Tiga buah sikat terlihat asyik curhat bagaimana kesuksesan mereka dalam berbagi manfaat.

"Aku ini sikat PATUH ASA. Apa yang tuan butuhkan aku bisa." lantang sikat cuci membanggakan diri. "Aku memang diciptakan untuk menyikat pakaian ketika dicuci. Tapi aku juga bisa menyikat lantai kamar mandi. Aku bisa untuk menyikat bak mandi ketika dikuras. Aku bisa untuk menyikat ban mobil jika tuan mencucinya kala panas. Aku bahkan bisa untuk menyikat sayuran. Pokoknya aku bisa melakukan apa yang tuan butuhkan" Sahut sikat cuci merasa dirinya yang paling hebat.

"Iya kakak sikat cuci memang hebat. Tapi kan tetap saja kakak sikat cuci berharga murah" tukas sikat gigi tidak mau kalah. "Aku juga tidak kalah hebat sama kakak sikat cuci. Aku dibuat khusus untuk membersihkan gigi tuan, sehingga ia dapat terus menyantap makanan. Aku bisa digunakan untuk membersihkan perhiasan. Aku diciptakan untuk mengerjakan hal - hal istimewa dan aku berharga lebih mahal dari kakak sikat PATUH ASA" jumawa sikat gigi bercerita.

"Kakak berdua memang hebat. Tidak seperti aku yang hanya bermanfaat membersihkan tempat paling menjijikkan. Tempat tuan membuang kotoran" rendah diri si bungsu sikat kakus berkata. "Aku hanya bermanfaat membersihkan feses tuan. Menghilangkan bau pesing sehabis tuan kencing. Sehabis kalian digunakan tuan akan membersihkan lalu membelai tubuh kalian. Sedangkan aku, sehabis digunakan akan langsung dihempaskan atau tergantung diabaikan". Sikat kakus melanjutkan "Tapi sekalipun demikian aku bangga dengan totalitas yang aku berikan, sekalipun tuan tidak memperlakukanku secara istimewa" sikat kakus tersenyum bahagia.

Seketika suasana menjadi hening. Melihat hal tersebut peri baik hati bernama Poo Sikat Dol muncul mencoba menjadikan suasana kembali bening. Ia berkata "Tiap - tiap kalian adalah istimewa dan berharga mahal. Berbangga dengan apa yang kalian kerjakan itu penting, tapi juga ndak perlu sombong. Pun kalian tidak perlu minder dan malu akan pekerjaan yang kalian lakukan". Dan Suasana menjadi cair, ketiga sikatpun berjanji memberikan yang terbaik hingga waktu mereka berakhir.

Tidak perlu menyombongkan kesuksesan yang kita miliki, karena kesuksesan bukan dilihat dari seberapa banyak prestasi yang telah diraih, bukan pula bangga karena diperlakukan istimewa. Kesuksesan sejati merupakan totalitas memberikan manfaat, itulah nikmat yang mampu menjadikan hidup bersemangat.

- aeplopyu [I Love U] - 

Senin, 05 November 2012

Terima Kasih Ingus

Setelah cukup istirahat akhirnya tubuh saya sudah mulai bisa bersahabat dengan flu yang sedang bertamu. Memenuhi hobi, pagi hari seusai mengantar istri ke kampus, saya lajukan Jupi menuju daerah Pondok Gede untuk berbagi guyu dan inspirasi. Lewat tengah hari saya menyegerakan diri untuk segera pulang dan beristirahat, dengan harapan amanah menikmati hobi yang sudah dijadwalkan seminggu ini dapat terlaksana seluruhnya.

Fffuhh... udara siang tadi sangat tidak bersahabat, berselimutkan keringat saya harus bertarung dengan asap knalpot yang jahat. Mengendarai Jupi, membonceng istri, pusing akibat flu semakin menjadi-jadi. Pusing yang dirasa membuat saya sudah tidak tahan lagi, ini ingus mendesak berkeliaran berusaha keluar membanjiri dua lapis masker yang saya kenakan. Ah ya sudahlah, akhirnya saya biarkan ia berlabuh dan menjadi pendingin alami wajah yang terbakar panas mentari.

Sampai dirumah akhirnya saya melepas masker yang saya kenakan. Gugus ingus dan nikmat keringat terlihat sudah membanjiri masker dan sapu tangan. Istri saya tertawa cekikikan melihat polah saya yang tak ambil pusing, heran melihat saya malah sumringah layaknya orang sinting.

Beberapa dari anda mungkin akan beranggapan bahwa tulisan saya jorok dan menjijikkan. Tapi mari melihat dari sisi positifnya. Tulisan ini justru merupakan wujud kebersyukuran saya terhadap ingus yang mengajarkan tentang arti kebaikan. Saya bersyukur bahwa ketika saya mengalami flu adalah ingus yang keluar dari hidung saya. Bayangkan jika saatnya anda flu ternyata yang keluar dari hidung anda adalah darah, justru itu akan menjadi masalah. Ketika flu dan hidung anda mengeluarkan ingus berarti itu pertanda yang bagus.

See, ternyata ingus juga mampu menjadi guru kehidupan. Ia mengajarkan untuk melihat sisi positif dari suatu kejadian. Terima kasih ingus....

- aeplopyu [I Love U] - 

Minggu, 04 November 2012

Prioritas Hidup

Minggu siang akhirnya saya mengantarkan Si Jupi, kuda besi dan sahabat paling setia ke bengkel resmi untuk diservis. Saya memang akhirnya harus meluangkan waktu mengantar Jupi ke bengkel resmi karena saya merasa performanya akhir-akhir ini semakin kurang prima. Jujur terakhir kali saya membawanya ke bengkel resmi adalah satu tahun lalu ketika dia memang harus mengalami servis besar.

Mekanik bengkel tersebut begitu cekatan menangani Jupi. Saking cekatannya, mekanik tersebut menemukan berbagai macam penyakit dalam tubuh Jupi, penyakit yang sudah tertimbun selama satu tahun. Selama ini saya menganggap enteng jika Jupi sedikit rewel. "Ah cuma begini.. Ah cuma begitu... masih bisa... besok - besok ajah... hajar ajah.." seringkali saya berpikir demikian.

Mengetahui begitu banyak penyakit yang menjangkiti Jupi saya jadi merasa bersalah. Jikalau saja saya dulu lebih perhatian pasti Jupi akan jauh lebih sehat. Jikalau saja saya lebih pengertian pasti ongkos perbaikannya tidak akan sebesar tadi...he..he..he...

Pengalaman saya dengan Jupi tadi siang memberikan sebuah pelajaran penting: kesehatan itu harus jadi PRIORITAS hidup. Seringkali kita memaksakan tubuh untuk terus bekerja - bekerja - bekerja sekalipun kondisi onderdil dan sistem tubuh kurang menunjang. Seringkali kita menganggap sepele tanda - tanda "rewel" nya tubuh, padahal tubuh mengisyaratkan kapan kita harus istirahat, kapan kita harus berobat, hingga kapan tubuh kita bisa melaju cepat. Kita lebih memprioritaskan apa yang bisa dihasilkan tubuh, dan menganggap lalu kondisinya yang sedang rapuh.

Dengan tidak berorientasi sesaat dan menjadikan tubuh agar lebih sehat, pasti kita akan memiliki kesuksesan yang melesat.

- aeplopyu [I Love U] - 


Jumat, 02 November 2012

Teko Ajaib

Jika anda diminta untuk menganalogikan diri anda dengan metafora kehidupan jawaban apa yang akan anda pikirkan? Mungkin ada yang akan menjawab seperti pohon pisang, pohon kelapa, lebah, semut, dan pastinya masih banyak lagi ya. Sayapun ditanya demikian oleh seorang peserta pelatihan "Cak Aep, seandainya anda diminta mengibaratkan diri anda dengan sesuatu metafora kehidupan, seperti apakah diri anda?". Pastinya sesuatu tersebut bukanlah syahrini ya. 

Jika saya diminta untuk mengibaratkan diri dengan metafora kehidupan maka saya akan menjawab bahwa saya adalah sebuah teko. Lho kok teko? ndak keren banget deh. Nah mari kita ulik pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sebuah teko.

Sebelum menjadi teko yang bermanfaat, ia merupakan butiran biji alumunium, besi, ataupun stainless steel yang ditempa sedemikian rupa dalam panas bara api sehingga akhirnya didapatkan wujudnya sebagai teko. Ternyata berbagai macam gelombang cobaan dan tsunami ujian merupakan proses penyempurnaan diri. Sebagaimana sebuah pengibaratan bahwa pelaut yang handal tak akan lahir dari lautan yang tenang.

Ketika teko diisi air, ia tidak akan menyimpan air tersebut untuk dirinya sendiri. Teko memiliki corong yang mengarah keluar, bukan corong yang mengarah kedalam. Ternyata segala hal yang kita miliki, apakah harta, tahta, ilmu, maupun kasih sayang tidak akan bermanfaat jika hanya tersimpan dan kita nikmati sendiri. Segala hal yang kita miliki akan jauh lebih bermanfaat jika mampu kita berikan kepada sesama. Sebagaimana air yang dikeluarkan melalui teko, ketika airnya habis maka akan selalu ada ruang untuk diisi ulang. Seberapa banyakpun yang kita keluarkan kita tidak akan pernah merasa kekurangan, karena Tuhan sudah menyiapkan mekanisme isi ulang terhadap tiap kebaikan yang kita lakukan.

Seperti apapun ujian yang mendera yakinlah hal tersebut merupakan tahapan penempaan diri kita dalam menggapai raihan prestasi terdahsyat. Selain itu, apapun yang kita miliki akan jauh lebih bermaanfaat jika kita tebarkan kepada sesama, sebagai langkah penyempurnaan prestasi menuju kehidupan terbaik yang sudah Tuhan tetapkan untuk kita.

Tentunya masih banyak hal yang dapat kita pelajari dari sebuah teko ataupun metafora kehidupan lainnya. Dan ya! saya adalah sebuah teko. Sebagaimana nama saya adalah Arief [t]Eko Prasetyo....

- aeplopyu [I Love U] -

Kamis, 01 November 2012

Lebih Dari Sekedar Buku Nikah

Ketika ijab kabul pernikahan kita diminta untuk bersumpah akan membahagiakan dan mencintai pasangan hidup, baik dalam suka maupun duka, kala senang ataupun susah, disaat sakit berjangkit maupun sehat bergelora.

Namun seiring berjalannya waktu atas nama kesibukan kita seringkali lalai terhadap sumpah tersebut. Karena lelah dan tuntutan pekerjaan, kita sering kali "ngacangin" keberadaan pasangan di rumah, bahkan yang lebih parah kita bahkan khilaf menjadi pemarah.

Saya pun seringkali masih demikian terhadap istri. Asyik masyuk dengan pekerjaan, lebih memilih bercumbu dengan note book ketimbang istri yang pantas dipeluk. Masih sering marah pada istri yang harusnya dibuat tersenyum merekah. Namun kini ketika saya berlaku demikian, saya akan menampar ego hati dengan sebuah perenungan kepantasan.

Pantaskah saya ngacangin dirinya, padahal ia berkenan mengabdikan hidupnya diusia belia. Pantaskah saya marah kepadanya, padahal tiap malam ia berdoa dengan khusyuk berharap kemudahan bagi saya dalam menelusuri ma'isyah. Pantaskah saya berpaling darinya, padahal ia hanya menghadapkan ketaatan kepada Tuhan dan pasangan hidupnya. 

Perenungan kepantasan akhirnya membuat saya sadar, bahwa sejatinya Yang Maha Rahim telah menganugerahkan pasangan hidup bukan untuk teraniaya. Perenungan kepantasan menampar saya dan membuat untuk selalu ingat hadirnya istri untuk dibahagiakan, bukan menuntutnya untuk membahagiakan. Perenungan kepantasan membuat saya sadar sumpah yang terucap dikala ijab bukanlah sekedar untuk mendapatkan legitimasi buku nikah. Perenungan kepantasan membuat saya rutin nikmat mengucap "Popo cinta Ubi" dan selalu berusaha untuk tiada menyakiti. 

Mari berusaha memantaskan diri dihadapanNya dengan memantaskan arti diri dan pasangan hidup terkasih. Pasangan hidup kita lebih dari sekedar buku nikah

-aeplopyu [I Love U]-


Rabu, 31 Oktober 2012

Sesesat Kilat

Hal yang paling tidak boleh dilakukan oleh seorang pemimpin adalah panik, apalagi jika panik hinggap kala kita diminta untuk membuat keputusan secepat kilat. Hal ini pun seringkali masih saya rasakan ketika diberikan amanah untuk memimpin sebuah acara pelatihan.

Ketidaksibukkan saya selain mencoba berbagi "guyu" adalah bergabung menjadi associate lead fasilitator di beberapa konsultan pengembangan diri. Tugas saya selain harus memfasilitasi peserta juga harus mampu mengkoordinasikan antara kegiatan pelatihan, peserta, trainer, dan para fasilitator lainnya, dan alhamdulillah, sebagai lead fasilitator seringkali saya bekerja tidak optimal. 

Ketidakoptimalan performa saya bisa disebabkan oleh banyak hal: kurang pengalaman, kurang sehat, atau yang lebih sering dan bahkan membuat fatal adalah panik. Pernah saya diberikan amanah memimpin sebuah pelatihan besar di Bogor. Kala itu, selain karena minim pengalaman dan kondisi badan yang kurang fit,  panik menyebabkan saya tidak mampu memberikan performa terbaik. Hingga suatu ketika disuatu sesi pelatihan kepanikan saya membuncah. Saya diminta melakukan penyesuaian mendadak dan memberikan keputusan cepat, bahkan bila mampu harus secepat kilat. Saat itu dalam pikiran saya adalah keputusan...keputusan...keputusan...!!!

Melihat kondisi pelatihan yang semakin kurang kondusif, sayapun segera memberikan perintah kepada rekan tim fasilitator lainnya, dengan instruksi yang arogan, tidak jelas dan dalam kondisi panik. Seketika tim langsung kebingungan, para peserta pun teraniaya merasa terbaikan. Beruntung saat itu ada sosok bijak tersenyum, menenangkan, dan mencoba menganalisa apa yang sedang terjadi. Orang tersebut biasa saya sapa dengan Ayahanda Sjaiful Hamdi Naumin, Master Trainer yang akan mengisi sesi pelatihan saat itu.

Beliau bertutur "Aep, tahukah aep seperti apa pemimpin yang baik? yaitu pemimpin yang tidak panik. Karena coba aep lihat, saat aep sebagai pimpinan panik, apa yang terjadi dengan bawahan aep? lebih panik kan?". Ayahanda melanjutkan "Pemimpin yang panik akan menganiaya orang yang dia pimpin. Makanya, coba ketika ada masalah, Aep tuma'ninah. Diam sejenak, tarik nafas, pahami masalah yang ada. Ketika dapat solusinya, jangan langsung diutarakan, namun pikirkan kelebihan dan kekurangannya. Baru kemudian jika yakin, segera sampaikan solusi tersebut"

"Aep, tuma'ninah mampu meredakan tekanan yang ada dan memberikan ruang perenungan untuk membuat solusi terbaik" Ayahanda Sjaiful tersenyum kemudian menepuk bahu saya. Saat itu jujur saya menahan tangis haru, mencium tangan lalu memeluk tubuh guru mulia tersebut.

Mari belajar, bahwa kilat selalu tampil di langit yang sedang kelam. Kilat memang mampu memberikan kilasan cahaya sesaat yang memukau, namun setelahnya akan menimbulkan gemuruh yang mampu memekakkan telinga hingga membuat orang lemas terkaget - kaget karenanya. 

Dalam sebuah tim membuat keputusan secepat kilat memang penting. Namun selain harus memudahkan pekerjaan tim, juga jangan sampai menganiaya orang lain. Penting membuat keputusan secepat kilat. Namun jangan sampai membuat keputusan yang sesesat kilat.

- aeplopyu [I Love U] -

Selasa, 30 Oktober 2012

Kantong Kenceng vs Kantong Kempes

Hari ini bersama-sama para Konselor Remaja dari LKC Dompet Dhuafa saya mempelajari hal yang menarik tentang komunikasi anak dan pelatihan aktif. Menurut saya inti dari kedua materi tersebut adalah komunikasi. Karena ternyata ilmu tentang bagaimana menyiapkan anak tangguh melalui komunikasi bisa diaplikasikan kedalam konteks pelatihan aktif.

Bukan bermaksud menyamakan peserta pelatihan seperti halnya anak-anak. Tapi bagaimana kita mengapresiasi kehadiran peserta patut kiranya mencontoh pola berkomunikasi dengan anak. Harus disadari bahwa setiap manusia, terutama anak-anak butuh untuk didengarkan, dinamakan, diterima, dimengerti, dan dihargai. Anak - anak adalah segalanya bagi kita. Kita berjuang banting tulang, bertaruh nyawa demi kebahagiaan mereka. Begitupun peserta pelatihan, mereka adalah segalanya bagi kita. Performa kita ditujukan demi kepuasan mereka, karena peserta adalah Raja.

Terkadang atas nama kepuasan, dalam mengasuh anak kita seringkali menerapkan pola Memerintah - Mengancam - Mencap. Padahal ketika kita bicara pada mereka sebenarnya kita sedang melakukan pengasuhan. Begitupun dalam pelatihan, seperti kata Bang Haji TERLALU jika masih ada yang memperlakukan peserta sembari marah - marah lalu memberi label buruk atau bahkan mengancam pelatihan dihentikan jika peserta tidak memperhatikan trainer. Padahal harus diingat siapapun ketika tercerabut harga dirinya, maka akan sulit baginya menerima kehadiran kita, apalagi pengasuhan (ilmu) yang coba kita berikan.

Jika harga diri diibaratkan dengan sebuah kantong. Maka orang yang memiliki harga diri terbaik bisa diibaratkan dengan kantong yang kenceng dan penuh, karena kristal - kristal positif seperti pujian, penerimaan, maupun penghargaan tetap berada di kantongnya, bahkan terus menerus kita tambahkan sehingga membuat orang yang memiliki harga diri tersebut mempercayai kita untuk terus membantunya percaya diri mendapatkan konsep hidup terbaiknya.

Berbeda jika kita terus menerapkan pola Memerintah - Mengancam - Mencap. Maka perlahan - lahan kita sudah mengambil kristal - kristal positif tersebut dan membuat kantong harga diri seseorang jadi semakin kempes. Ketika harga diri seseorang kempes maka ia semakin kurang percaya diri mengarungi gelora samudera kehidupan yang akan dilaluinya. Bahkan sulit mempercayai kita lagi sebagai orang yang membantunya memiliki konsep hidup terbaik.

Jadi mari membuat kantong - kantong harga diri yang kenceng dan penuh. Mari menerapkan pola komunikasi terbaik, "mengasuh" demi kepuasan MEREKA, bukan demi kepuasan SAYA.